Sosok Pemimpin Berpengaruh

Adalah Rasulullah Muhammad SAW, sosok yang buta huruf namun mampu mengubah wajah peradaban dunia melalui risalah Islam yang diajarkannya. Beliau dikenal sebagai seorang pemimpin agama, panglima perang, diplomat ulung, sekaligus negarawan yang handal.

Dalam sejarah, dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW, situasi sosial dan politik wilayah Arab yang dipenuhi dengan persaingan antarsuku dan tata kehidupan yang keras khas padang pasir berubah menjadi sebuah komunitas yang bersatu dengan peradaban yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Beliau adalah sosok pemimpin yang sukses.

Salah satu kunci instrumen penting dalam kepemimpinan Rasulullah yang patut kita tiru adalah kemampuan beliau dalam mempengaruhi orang lain. Stephanie Barrat-Godefroy (penulis buku tentang manajemen SDM), menguraikan bahwa salah satu persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin sejati adalah harus mampu mempengaruhi orang lain. Kemampuan mempengaruhi orang lain lain menjadi modal dasar seorang pemimpin, bagi komunitas apapun, dari lembaga bisnis, pemerintahan, agama, dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah apa yang bisa membuat seorang pemimpin memiliki pengaruh yang kuat terhadap para pengikutnya? Ada beberapa hal, yaitu

Ketinggian ilmu
Kepandaian seseorang dapat menyebabkan seseorang itu berpengaruh terhadap orang lain. Bahkan seorang khalifah sekalipun bisa tunduk kepada seorang yang memiliki ketinggian ilmu. Suatu ketika, khalifah Harun ar-Rasyid mendengar ketinggian ilmu Imam Malik, peletak dasar Mazhab Maliki.

Sang khalifah tertarik supaya anak-anaknya belajar pada sang ulama. Ia meminta sang ulama untuk datang ke istana khalifah. ”Saya ingin anak-anakku mendengarkan kajian kitab al-Muwaththa’ di istana,” ujar Harun ar-Rasyid.
Namun, betapa terkejutnya sang khalifah, Imam Malik tidak mau datang ke istananya. Dengan tegas Imam Malik menjawab, ”al-Ilmu yu’ta alaihi wa la ya’ti” (Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi). Harun ar-Rasyid tidak bisa apa-apa. Ia lantas menyuruh putra-putranya datang ke masjid tempat Imam Maliki memberikan kajian untuk mengaji bersama rakyatnya.

Kita bisa lihat bahwa pengaruh seseorang bisa timbul karena ketinggian ilmunya. Namun perlu diperhatikan, bahwa jangan dikira dengan sebatas menguasai ilmu saja, kita bisa menjadi orang yang berpengaruh. Menuntut ilmu harus disertai dengan mengamalkannya secara ikhlas. Pengamalan dengan ikhlas atas ilmu akan menumbuhkan rendah hati yang memancarkan kewibawaan. Itulah kunci kenapa Imam Malik menjadi begitu berpengaruh.

Kemampuan lisan
Tidak semua pengaruh muncul dari ketinggian ilmu. Pengaruh bisa tumbuh karena kecerdasan lisan seseorang. Kemampuan berbicara, orasi, atau berdiplomasi yang baik dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain. Bung Karno, presiden pertama RI, adalah contoh pemimpin berpengaruh sekaligus orator yang ulung.

Mari kita simak siroh tentang sahabat Mush’ab bin Umair! Beliau adalah duta dakwah pertama yang diutus Rasulullah membuka dakwah di Madinah. Pada suatu hari, Mush’ab bin Umair menyampaikan dakwah di hadapan kabilah Abdul Asyhal di Madinah, tiba-tiba beliau dihadang Usaid bin Hudlair, sang kepala kabilah.

”Apa maksud kedatanganmu ke sini? Apakah hendak membodohi kaumku? Tinggalkan segera tempat ini! Atau nyawamu akan melayang!” bentak Usaid sambil menodongkan tombak ke dada ibnu Umair.

Dengan tenang dan halus, Mush’ab bin Umair menjawab, ”Bagaimana jika Anda duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya Anda menyukai nanti, Anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, saya akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai!”

Mendengar permintaan halus tersebut, seketika Usaid menjatuhkan tombaknya dan meminta ibnu Umair untuk menyampaikan dakwahnya. Segera Mush’ab bin Umair membacakan ayat-ayat Al-Quran dan menguraikan dakwah yang dibawakan Muhammad SAW. Hasilnya, hati dan pikiran Usaid mulai terbuka dengan hidayah Allah yang bercahaya, Usaid bersyahadat. Tidak lama kemudian, keislaman Usaid bin Hudlair diikuti Sa’ad bin Mu’adz, kemudian Sa’ad bin Ubadah. Pasca masuk Islamnya tiga tokoh tersebut, masyarakat Madinah berbondong-bondong masuk Islam.

Sosok sahabat Mush’ab bin Umair menjadi teladan kita tentang bagaimana kemampuan diplomasi lisan dapat mempengaruhi pikiran orang. Dengan pertolongan Allah SWT melalui kemampuan lisannya, Mush’ab bin Usaid mampu mempengaruhi masyarakat Madinah dan kemudian mempersiapkan Madinah untuk kedatangan rombongan hijrah kaum Muslimin dari Mekah.

Kekuatan kepribadian
Dialah Abdurrahman ibnul Jauzi. Beliau memang hanya seorang ulama, tapi kekuasaan dan pengaruhnya mampu melebihi kekuasaan seorang raja. Dengan kekuatan kepribadiannya, kharismanya, beliau mampu mengusai jalan pikiran setiap orang yang mendengarkan petuahnya.

Untaian kalimat nasihat yang keluar lisannya, mampu melembutkan hati sekeras batu sekalipun. Sinar matanya yang penuh wibawa dan kharisma mampu menjinakkan keliaran mata. Setiap kali ia berkhotbah, ribuan atau bahkan ratusan ribu orang menemui kesadaran kembali. Bahkan penguasa digdaya yang tidak pernah menangis seumur hidupnya akan menangisi dirinya di hadapannya.

Apa yang menyebabkan pengaruh yang beliau miliki begitu luar biasa di hadapan orang lain? Jawabannya tidak lain karena kekuatan kepribadian beliau. Kepribadian yang terbentuk dari kharisma dan pesona diri. Ya, kepribadian beliau menjadi berpengaruh karena kharismanya. Kharisma tumbuh dari gabungan wibawa dan pesona, ilmu dan akhlak, pikiran dan tekda, keluasan wawasan dan kelapangan dada. Beliau menebarkan ilmu dan cinta di setiap penjuru pikiran manusia.

Itulah kekuasaan spiritual, kata Anis Matta. Kekuasaan yang mampu menimbulkan ketaatan atas dasar pengakuan tulus, bukan ketakutan atas ancaman. Kekuasaan yang mampu menimbulkan ketundukan atas dasar hormat dan cinta.

Jadi, pesan utama tulisan adalah pada tiga hal yang mampu mengubah diri Anda menjadi begitu berpengaruh kepada orang laing, yaitu ilmu, lisan, dan integritas pribadi.

Advertisements

SMART Vision

Suatu ketika, Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Umair, Urwah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan duduk bersama dalam satu majelis. Salah seorang dari mereka melontarkan pertanyaan, ”Mari kita ber-angan karena Allah, apa yang kalian inginkan?”
”Aku ingin memiliki wilayah Hijaz dan menjadi khalifah di atasnya,” kata Abdullah bin Zubair.
”Aku ingin menguasai wilayah Iraqain (Kufah dan Basrah),” kata Mush’ab bin Umair.
”Aku ingin memiliki seluruh bumi, dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah,” kata Abdul Malik bin Marwan.
”Aku ingin menjadi seorang yang alim, banyak beramal, menjadi rujukan manusia. Lalu aku unggul di akhirat dengan ridha Allah dan surga-Nya,” kata Urwah bin Zubair.

Pada akhirnya, Allah mewujudkan cita-cita keempat tokoh tersebut. Abdullah berhasil menguasai Hijaz dan diangkat menjadi khalifah. Mush’ab mampu menguasai Iraqain. Abdul Malik juga menjadi khalifah setelah Mu’awiyah dan Urwah menjadi ulama yang terkenal sebagai rujukan kaum Muslimin dalam mempelajari Al-Quran dan sunnah Rasul.

Begitulah orang-orang besar hidup. Kesuksesannya berawal dari membangun mimpi. Cita-cita. Visi. Itulah yang mesti kita miliki untuk menjadi sukses. Mereka dari awal sudah memetakan dengan tepat visi hidup mereka. Ada sebuah kalimat bijak, ”mimpi hari ini adalah kenyataan di hari esok”. Ya, kesuksesan pada masa depan dimulai dari membangun mimpi yang tepat pada saat ini.

Sama halnya ketika kita menjadi memimpin sebuah organisasi. Kesuksesan kita sebagai pemimpin dimulai dari membangun visi yang tepat. Seperti apa? Ada lima syarat, yang terkenal dengan singkatan SMART. Artinya Spesific, Measurable, Achievable, Reasonable, dan Time-framed.

1. Spesific

Spesific artinya tertentu atau khusus. Jelas. Gamblang. Tidak kabur. Coba kita lihat bagaimana ke-empat tokoh di atas, Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Umair, Urwah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan, masing-masing memiliki cita-cita yang jelas. Mereka dengan gamblang menceritakan visi yang ingin dicapai dalam hidup mereka. Gambaran yang jelas mengenai visi menjadi salah satu faktor kunci yang akan menentukan konsistensi sobat ketika menghadapi masalah. Masing-masing juga menentukan visi hidup yang berbeda satu sama lain. Itulah makna dari ”khusus” di atas. Setiap kita biasanya memiliki ke-khas-an tersendiri dalam menentukan cita-cita.

2. Measurable

Yang kedua adalah measurable, artinya terukur. Maksudnya, kita memiliki parameter-parameter yang jelas untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dalam mencapai visi . Kita bisa melihat sukses atau tidak dari parameter tersebut. Apa yang bisa kita dapatkan dari pencapaian visi yang telah direncanakan. Itu intinya.

Coba sobat perhatikan pernyataan Abdullah bin Zubair! Dia ingin memiliki wilayah Hijaz dan menjadi khalifah di atasnya. Parameter apa yang bisa dilihat? Ya, beliau baru akan merasa sukses jika tidak hanya memiliki Hijaz saja, tapi juga dengan menjadi khalifah di wilayah tersebut. “…………menjadi khalifah di atasnya”. Itulah kalimat yang nenunjukkan bahwa visi Abdullah bin Zubair adalah visi yang measurable.

3. Achievable

Achievable atau dapat dicapai. Tentukan pencapaiannya. Target yang ingin kita capai itu apa. Nah, target itu haruslah yang rasional. Yang seperti apa? Yang kita dapat mencapainya. Bukan yang muluk-muluk. Hanya sekedar mimpi belaka tanpa pernah bisa terealisasi.
Kembali kita memperhatikan pernyataan Urwah bin Zubair di atas. Pada kalimat terakhir, beliau ingin menjadi manusia yang unggul di hadapan Allah SWT. Nah, bagaimana beliau bisa mencapainya? Jawabnya adalah dengan menjadi seorang yang alim, banyak beramal dan menjadi rujukan manusia dalam ilmu agama.

Sebagaimana Urwah bin Zubair, kita harus bisa merinci, atau setidaknya memiliki gambaran, kira-kira untuk bisa mencapai visi tersebut apa yang mesti dilakukan. Cara apa yang mesti kita tempuh. Jalan mana yang mesti kita lalui sehingga visi tercapai. Visi bisa dikatakan achievable adalah ketika visi itu memiliki skenario atau rencana bagaimana pencapaiannya.
Kalau kita ternyata tidak tahu harus bagaimana? Berpikir yang keras untuk mencari jalan. Kalau masih belum ketemu, masih bingung? Boleh jadi, visi kita memang tidak memenuhi syarat achivable.

4. Reasonable

Reasonable itu bisa diartikan layak, pantas, dan masuk akal. Realistis. Kita mesti menentukan visi yang layak, pantas dan masuk akal bagi kita untuk mencapainya. Untuk itu mesti ada alasan yang menjadikan visi kita realistis. Lagi-lagi, tidak muluk-muluk sehingga bisa tercapai. Kata seorang teman, tahu diri sedikitlah…

Tapi itu bukan berarti kemudian kita terus pasang target rendah. Bukan begitu. Kita tetap menentukan cita-cita yang setinggi-tingginya, hanya catatannya mesti yang realistis. Istilah kerennya, kita tidak over-estimate tapi juga tidak under-estimate.  Jadi, visi yang reasonable adalah yang realistis. Yang sesuai dengan situasi dan kondisi kita. Kapasitas kita sangat menentukan realistis tidaknya visi yang kita buat. Tentang visi ke-empat tokoh di atas, adalah realiastis karena memang kapasitas mereka layak untuk memiliki obsesi setinggi itu.

5. Time-framed

Time-framed, ini artinya visi kita mesti memiliki frame waktu yang jelas. Memiliki tahapan-tahapan waktu dalam pencapaiannya. Maksudnya, ada kejelasan waktu kapan kita akan memulai, sampai target kapan visi tersebut harus tercapai. Semua kerja tersusun dalam urutan waktu pelaksanaan yang tertata. Ini akan membantu kita dalam mengukur sukses atau gagalnya pencapaian visi kita. Selain itu, terlambat tidaknya visi tercapai juga dapat dilihat.
Abdul Malik bin Marwan memiliki visi dengan time-frame yang jelas. Beliau ingin menjadi khalifah setelah Mu’awiyah. Di sini terlihat bahwa, time-framed tidak hanya melulu terpaku pada satuan waktu yang biasa kita kenal, misal tahun, bulan, umur, dsb. Tetapi yang ditekankan adalah pada urutan atau tahapan kerja dengan alokasi waktu masing-masing. Gitu…….

Kuliah Evolusi-Atheisme Richard Dawkins

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengikuti kuliah umum Prof. Richard Dawkins secara langsung di Nieuwkerk, Groningen. Buat yang belum tahu siapa Richard Dawkins, dia adalah salah seorang profesor biologi (bidang kepakarang evolusi) di University of Oxford, UK. Ilmuwan ini menjadi terkenal di dunia melalui pemikirannya tentang teori evolusi, genetika dan asal-usul kehidupan dalam beberapa buku karangannya, misalnya The Selfish Gene dan The Extended Phenotype. Dia menjadi semakin terkemuka setelah membuat kontroversi melalui bukunya The God Delusion yang mengkritik habis-habisan kepercayaan adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Dia adalah seorang atheis yang meyakini bahwa kehidupan sepenuhnya berjalan dalam prinsip-prinsip evolusi. Kalau pengen tahu lebih detail, silahkan di-google sendiri ya..

Saya termasuk beruntung bisa mengikuti kuliahnya secara langsung. Banyak teman-teman yang juga sangat ingin mengikuti tapi tidak bisa karena tidak mendapatkan tiketnya. Perlu diketahui, tiket kuliah ini terjual habis sekitar setengah jam setelah loket dibuka. Padahal, saat itu masih dua minggu sebelum acara. Saya sendiri bisa ikut karena profesor pembimbing mengajak saya. Kebetulan, pembimbing termasuk salah satu anggota event organizer-nya.

Selama sekitar satu jam, dalam kuliahnya Dawkins menjelaskan pemikirannya mengenai prinsip-prinsip dasar teori evolusi dan perkembangannya. Tidak ada yang baru dalam kuliahnya, sama seperti uraian dalam beberapa buku/tulisannya yang telah saya baca sebelumnya.

Lepas dari masalah keyakinan saya (Islam) yang tentunya bertentangan dengan pemikiran Dawkins, ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya. Menurut Dawkins, kehidupan di bumi ini berjalan dalam kerangka proses evolusi. Sementara, proses evolusi menuntut adanya seleksi alam dan variasi individu. Seleksi alam terjadi melalui beberapa faktor pemicu, misalnya terbatasnya akses sumber daya dan adanya gangguan (pemangsa, bencana, dsb). Karena akses terhadap sumber daya (misalnya makanan, habitat, reproduksi, dsb) sifatnya terbatas, maka terjadinya kompetisi antar individu tidak dapat di-elakkan. Siapa yang mampu mempertahankan akses-nya terhadap sumber daya (misalnya sumber makanan), maka dia-lah yang bertahan. Kompetisi antar individu menjadi semakin parah karena pada saat yang sama setiap individu juga menghadapi gangguan (misalnya pemangsa). Pada akhirnya, siapa yang mampu bertahan adalah yang memiliki akses terhadap sumber daya sekaligus bertahan dari gangguan. Prinsip yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah, menjadi berlaku disini.

Masalahnya adalah Dawkins membawa prinsip dasar evolusi ini ke konteks yang lebih luas, masuk ke aspek kehidupan manusia. Salah satu penopang dasar dari keyakinan atheisme yang dia pegang adalah teori evolusi (yang prinsip dasarnya tersebut di atas). Jika dikembangkan lebih jauh, pemikiran ini bisa meng-inspirasi tumbuhnya golongan radikal atheis baru, yang berprinsip yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah.

Hal ini-lah yang mengganggu saya. Golongan ini bisa saja memerangi atau bahkan membunuh individu/kelompok/atau bangsa lain yang lemah dengan alasan, “begitulah hukum alam, yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah”. Hidup adalah persaingan untuk mendapatkan sumber daya dan berlindung dari gangguan (dalam bentuk apa saja). Ini bisa menjadi malapetaka bagi seseorang yang terlahir dengan cacat bawaan misalnya, karena keterbatasan fisiknya membuat dia tidak mampu meng-akses sumber daya atau berlindung dari gangguan.

Parahnya adalah, Dawkins sangat getol mengampanyekan pemikiran atheisme-nya sekaligus mempopulerkan teori evolusi ke khalayak luas. Silahkan di-google aja. Ketik nama Richard Dawkins, dan lihat hasilnya, Anda akan melihat betapa Dawkins merupakan figur pemimpin baru dalam atheisme. Saya sangat khawatir, dalam perkembangannya ke depan, akan muncul orang-orang yang sangat terpengaruh oleh pemikiran Dawkins dengan sudut pandang yang radikal. Dan ini bisa merusak tatanan peradaban manusia.

Anyway, memang akan selalu ada orang-orang seperti Dawkins ini, dan ini merupakan salah satu bentuk ujian keimanan bagi seorang mukmin (Al-Ankabut: 2-3). Semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam istiqomah.

(Pojok Jupiterstraat, 13 Januari 2012).

Lapang Dada

lapang-dada

Ada seorang pemuda yang selalu merasa hidupnya susah, selalu murung dan banyak dirundung masalah. Suatu ketika, dia curhat ke seorang kakek.

“Kek, kenapa hidupku selalu susah, tidak pernah lepas dari masalah dan aku sering kebingungan?”, tanya si pemuda.

“Oh..kalo begitu, ambil segenggam garam dan segelas air,” perintah sang kakek.

Sambil kebingungan, si pemuda mengambil segelas air dan segenggam garam sesuai permintaan sang kakek.

“Ini kek…,” kata si pemuda

“Masukkan garam ke dalam air di gelas itu, lalu minum, dan bagaimana rasanya?” perintah kakek.

“Iya kek…., rasanya asin sekali kek…,”ujar  si pemuda sambil meringis ke-asin-an.

“Sekarang, ambil lagi segenggam garam dan ayo kita ke danau sebelah rumah. ” perintah kakek lagi.

Semakin kebingungan, si pemuda mengikuti apa kata kakek.

Sesampainya di danau, kakek menyuruh sang pemuda untuk melarutkan segenggam garam yang dia bawa ke air di danau. “Garamnya sudah saya larutkan di air danau ini kek…,” kata si pemuda.

Bagus, sekarang coba rasakan air danau ini…,” kakek memberi perintah lagi, “Lalu apa yang kau rasakan, apakah rasanya asin seperti air di gelas tadi ?”

“Air danau rasanya tetap tawar, tidak asin kek…” jawab pemuda.

Itulah jawabanku atas keluhanmu tadi. Cucuku, segenggam garam tadi, itu ibarat segala permasalahan hidup yang kita alami. Dan danau ini, itu ibarat hati kita. Hadapi masalah ini dengan lapang dada, hati yang luas, maka masalahmu itu menjadi kecil, tak terasa. Sebagaimana garam yang engkau larutkan ke air danau ini, tidak akan berpengaruh apa2, rasa air danau tetap hambar.”

“Sebaliknya, kalau hatimu sesempit gelas tadi, maka masalah sekecil apapun akan terasa berat dan membebani seperti air di gelas yang terasa sangat asin, bahkan menjadi pahit karena terlalu asinnya…”

So, berlapang dada-lah dalam menghadapi pernak-pernik kehidupan. Bersyukur ketika dapat nikmat dan bersabar ketika dapat ujian. Itulah sebenarnya hati yang lapang…….

(unknown author)

Memimpin dengan Visi

Memimpin dengan Visi

Rombongan besar kaum Muslimin ekspedisi penaklukan Romawi telah berangkat. Sampai di suatu tempat yang dikenal dengan Ma’an, rombongan berhenti untuk istirahat. Di sana pasukan Muslimin mendengar kabar bahwa jumlah pasukan Romawi jauh lebih besar. Tiga puluh ribu pasukan Muslimin akan berhadapan dengan 200 ribu tentara Romawi. Mengetahui kabar itu, seketika semangat sebagian kaum Muslimin menurun. Muncul keraguan dan pesimisme.

Dalam pada itu, muncul usulan untuk berkirim surat kepada Rasulullah dan menceritakan kekuatan lawan. Mendengar itu, salah seorang komandan perang, Abdullah bin Rawahah segera berkata, “Demi Allah, apa yang kalian tak sukai justru merupakan tujuan kalian sebenarnya. Bukankah kalian menginginkan syahid? Kita memerangi musuh bukan karena mengandalkan jumlah, kekuatan, maupun banyaknya tentara. Kita memerangi meraka atas nama agama ini yang karenanya Allah memuliakan kita. Majulah! Kita pasti akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan. Menang atau syahid!”

Serentak pekik takbir bergema. Pasukan Muslimin bersepakat untuk meneruskan perjalanan ekspedisi. Sampai di suatu tempat yang bernama Mu’tah, pertempuran terjadi. Dan kemudian Allah menganugerahkan kemenangan bagi kaum Muslimin. Pasukan Romawi berhasil dipukul mundur, kembali ke negerinya.

Salah satu hikmah yang menarik dari penggalan kisah di atas adalah bagaimana kepiawaian Abdullah bin Rawahah sebagai salah satu pimpinan pasukan mengembalikan semangat perang yang mulai surut. Bagaimana dia, dengan kemampuan pidatonya, mampu membangun kembali optimisme pasukan Muslimin meski akan menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih besar. Jawabannya terletak pada visi.

Visi adalah cita-cita. Tujuan akhir. Mimpi yang ingin dicapai. Yang kemudian memberikan dorongan bagi kita untuk berusaha hingga mimpi itu tercapai. Dalam sebuah organisasi, visi adalah tujuan akhir yang akan memberikan jawaban untuk apa organisasi tersebut terbentuk, kemudian merencanakan dan menjalankan program kerjanya. Organisasi tanpa visi akan menjadi organisasi tanpa tujuan.

Kita ibaratkan suatu organisasi dengan sebuah kapal yang sedang melakukan perjalanan. Pelabuhan tujuan kapal berlabuh adalah analogi dengan visi bagi organisasi. Nah, nahkoda kapal ibarat pemimpin bagi organisasi dengan ABK adalah anak buahnya. Agar sampai pada tujuan, maka nahkoda dan ABK kapal harus tahu tujuan kemana kapal akan berlabuh. Jika suatu ketika, karena cuaca misalnya, kapal berbelok menuju ke arah yang salah, maka dengan mudah nahkoda dapat mengembalikan arah kapal tetap pada posisi yang benar. Nahkoda akan mengerahkan segenap ABK-nya untuk membuat kapal berjalan tetap megarah pada pelabuhan tujuan.

Visi menjadi penting ketika terjadi gejolah dalam organisasi. Seperti yang terjadi pada Abdullah bin Rawahah dan pasukannya. Ketika dia merasakan pasukannya mengalami lemah semangat, bukan karena jumlah pasukan musuh, tetapi sebenarnya karena pasukannya lupa dengan niat awal kenapa mereka harus berperang. Maka dengan segera ia mengingatkan seluruh pasukannya tentang tujuan awal kenapa mereka dikirim dalam ekspedisi ini. Ia dengan lantang menyampaikan bahwa visi pasukan adalah untuk meraih kemenangan atau menggapai syahid, maka jumlah pasukan musuh bukan alasan untuk mundur. Itulah arti penting sebuah visi bagi seorang pemimpin.

Jika Anda menjadi seorang pemimpin sebuah organisasi, maka Anda harus memahami visi atau tujuan organisasi yang sobat pimpin. Agar Anda tidak kebingungan ketika harus menjalankan fungsi kepemimpinan dalam organisasi tersebut. Pemahamam tentang visi organisasi akan menentukan bagaimana sobat mengelola dan mengaturnya. Kebijakan-kebijakan yang sobat ambil sangat ditentukan oleh pemahaman sobat tentang visi organisasi. Visi akan menjadi bingkai dari semua yang terjadi dalam sebuah organisai.

Kinerja kepemimpinan Anda bisa dilihat dari pencapaian atas visi yang telah ditetapkan. Maka semua program kerja yang direncanakan harus mengacu pada bagaimana visi organisasi bisa tercapai. Misal, ada sebuah organisasi yang visinya adalah memiliki anggota yang berakhlak sholeh. Maka program kerja dan kebijakan Anda harus diarahkan pada bagaimana membuat anggota menjadi berakhlak sholeh semua.

Anda sendiri harus memiliki visi memimpin. Pertanyaannya adalah visi seperti apa yang mestinya kita miliki? Baca serial selanjutnya…