Category Archives: Insight

Ayo stop korupsi!!!

Kemarin saya mengalami kejadian yang cukup membuat malu (bagi saya).

Ceritanya begini. Ketika itu, saya terlibat dalam obrolan selepas makan malam dengan teman-teman kampus dan beberapa pembimbing thesis. Sudah biasa bagi kami, setiap selesei sampling dari laut, sambil melepas lelah, kami selalu menghabiskan waktu malamnya dengan diskusi kecil atau obrolan sekitar dunia marine science secara umum.

Continue reading Ayo stop korupsi!!!

Cara Anak Belajar

Jika seorang anak hidup dengan kritikan,
Ia belajar untuk menyalahkan.

Jika seorang anak hidup dengan permusuhan,
Ia belajar untuk berkelahi.

Jika seorang anak hidup dengan celaan,
Ia belajar untuk rendah diri.

Jika seorang anak hidup dengan dipermalukan,
Ia belajar untuk merasa bersalah.

Jika seorang anak hidup dengan pengertian,
Ia belajar untuk bersabar.

Jika seorang anak hidup dengan dorongan,
Ia belajar untuk percaya diri.

Jika seorang anak hidup dengan pujian,
Ia belajar untuk menghargai.

Jika seorang anak hidup dengan kejujuran,
Ia belajar untuk adil.

Jika seorang anak hidup dengan rasa aman,
Ia belajar untuk yakin.

Jika seorang anak hidup dengan apa adanya,
Ia belajar untuk menyayangi dirinya.

Jika seorang anak hidup dengan dukungan dan persahabatan,
ia belajar untuk menemukan kasih sayang di dunia ini.

– Dorothy Law Nolte, Ph.D –

Who You Must Be…

My baby son…, listen to what I’m saying!

It is a legacy. It’s not gonna be in your school books. Your teachers are not gonna tell it.

You don’t need to be like me. Instead, what you need is to understand who you are. I just want you to know who you are and where you come from. That will guide you as you discover who you must be…

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” 

(Orbit Jupiter, March 2012)

Life is like coffee

Life is like coffee. Jobs, money, position in society are not more than cups for the coffee. They are just tools to contain and hold Life. And the type of a cup we have, does not define nor change the quality of life we live. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee. Savor the coffee, not the cup!

The happiest people do not have the best of everything. They just make the best of everything. Live simply. Speak kindly. Care deeply. Love generously.

(unknown author)

Oh my God…

Dua bulan terakhir ini, sebagian besar kolegaku adalah orang-orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Beberapa kali dalam obrolan ringan di sela-sela break, mereka dengan pe-de mengungkapkan keyakinannya itu. Berbagai logika mereka kemuka-kan. Tapi, kami tidak berniat mendiskusikan itu secara lebih jauh. Pengamatan sampel di laboratorium lebih menyita waktu dan perhatian kami.

Namun ada satu hal yang sering mereka lakukan dan juga kontradiktif dengan keyakinan mereka. Pada momen-momen tertentu, mereka secara spontan dan reflek, mengucapkan “oh, my god…”. Di satu sisi, mereka bilang tidak percaya adanya Tuhan, tapi di sisi lain, misalnya saat terkagum-kagum pada sesuatu, saat terkejut, atau bahkan saat marah karena cuaca, ekspresi yang justru spontan dan pertama muncul adalah ucapan “oh, my god..”.

Apa yang mereka lakukan itu membuatku sampai pada kesimpulan bahwa manusia itu secara naluri dan fitrah tidak bisa menolak adanya eksistensi Tuhan. Meskipun akal logika mereka mati-matian mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun fitrah mereka menunjukkan hal sebaliknya. Tanpa mereka sadari, alam bawah sadar mereka mengakui adanya eksistensi Tuhan, yang nampak pada ekspresi “oh, my god..”.

(Texel, January 2011)

Kuliah Evolusi-Atheisme Richard Dawkins

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengikuti kuliah umum Prof. Richard Dawkins secara langsung di Nieuwkerk, Groningen. Buat yang belum tahu siapa Richard Dawkins, dia adalah salah seorang profesor biologi (bidang kepakarang evolusi) di University of Oxford, UK. Ilmuwan ini menjadi terkenal di dunia melalui pemikirannya tentang teori evolusi, genetika dan asal-usul kehidupan dalam beberapa buku karangannya, misalnya The Selfish Gene dan The Extended Phenotype. Dia menjadi semakin terkemuka setelah membuat kontroversi melalui bukunya The God Delusion yang mengkritik habis-habisan kepercayaan adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Dia adalah seorang atheis yang meyakini bahwa kehidupan sepenuhnya berjalan dalam prinsip-prinsip evolusi. Kalau pengen tahu lebih detail, silahkan di-google sendiri ya..

Saya termasuk beruntung bisa mengikuti kuliahnya secara langsung. Banyak teman-teman yang juga sangat ingin mengikuti tapi tidak bisa karena tidak mendapatkan tiketnya. Perlu diketahui, tiket kuliah ini terjual habis sekitar setengah jam setelah loket dibuka. Padahal, saat itu masih dua minggu sebelum acara. Saya sendiri bisa ikut karena profesor pembimbing mengajak saya. Kebetulan, pembimbing termasuk salah satu anggota event organizer-nya.

Selama sekitar satu jam, dalam kuliahnya Dawkins menjelaskan pemikirannya mengenai prinsip-prinsip dasar teori evolusi dan perkembangannya. Tidak ada yang baru dalam kuliahnya, sama seperti uraian dalam beberapa buku/tulisannya yang telah saya baca sebelumnya.

Lepas dari masalah keyakinan saya (Islam) yang tentunya bertentangan dengan pemikiran Dawkins, ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya. Menurut Dawkins, kehidupan di bumi ini berjalan dalam kerangka proses evolusi. Sementara, proses evolusi menuntut adanya seleksi alam dan variasi individu. Seleksi alam terjadi melalui beberapa faktor pemicu, misalnya terbatasnya akses sumber daya dan adanya gangguan (pemangsa, bencana, dsb). Karena akses terhadap sumber daya (misalnya makanan, habitat, reproduksi, dsb) sifatnya terbatas, maka terjadinya kompetisi antar individu tidak dapat di-elakkan. Siapa yang mampu mempertahankan akses-nya terhadap sumber daya (misalnya sumber makanan), maka dia-lah yang bertahan. Kompetisi antar individu menjadi semakin parah karena pada saat yang sama setiap individu juga menghadapi gangguan (misalnya pemangsa). Pada akhirnya, siapa yang mampu bertahan adalah yang memiliki akses terhadap sumber daya sekaligus bertahan dari gangguan. Prinsip yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah, menjadi berlaku disini.

Masalahnya adalah Dawkins membawa prinsip dasar evolusi ini ke konteks yang lebih luas, masuk ke aspek kehidupan manusia. Salah satu penopang dasar dari keyakinan atheisme yang dia pegang adalah teori evolusi (yang prinsip dasarnya tersebut di atas). Jika dikembangkan lebih jauh, pemikiran ini bisa meng-inspirasi tumbuhnya golongan radikal atheis baru, yang berprinsip yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah.

Hal ini-lah yang mengganggu saya. Golongan ini bisa saja memerangi atau bahkan membunuh individu/kelompok/atau bangsa lain yang lemah dengan alasan, “begitulah hukum alam, yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah”. Hidup adalah persaingan untuk mendapatkan sumber daya dan berlindung dari gangguan (dalam bentuk apa saja). Ini bisa menjadi malapetaka bagi seseorang yang terlahir dengan cacat bawaan misalnya, karena keterbatasan fisiknya membuat dia tidak mampu meng-akses sumber daya atau berlindung dari gangguan.

Parahnya adalah, Dawkins sangat getol mengampanyekan pemikiran atheisme-nya sekaligus mempopulerkan teori evolusi ke khalayak luas. Silahkan di-google aja. Ketik nama Richard Dawkins, dan lihat hasilnya, Anda akan melihat betapa Dawkins merupakan figur pemimpin baru dalam atheisme. Saya sangat khawatir, dalam perkembangannya ke depan, akan muncul orang-orang yang sangat terpengaruh oleh pemikiran Dawkins dengan sudut pandang yang radikal. Dan ini bisa merusak tatanan peradaban manusia.

Anyway, memang akan selalu ada orang-orang seperti Dawkins ini, dan ini merupakan salah satu bentuk ujian keimanan bagi seorang mukmin (Al-Ankabut: 2-3). Semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam istiqomah.

(Pojok Jupiterstraat, 13 Januari 2012).

Lapang Dada

lapang-dada

Ada seorang pemuda yang selalu merasa hidupnya susah, selalu murung dan banyak dirundung masalah. Suatu ketika, dia curhat ke seorang kakek.

“Kek, kenapa hidupku selalu susah, tidak pernah lepas dari masalah dan aku sering kebingungan?”, tanya si pemuda.

“Oh..kalo begitu, ambil segenggam garam dan segelas air,” perintah sang kakek.

Sambil kebingungan, si pemuda mengambil segelas air dan segenggam garam sesuai permintaan sang kakek.

“Ini kek…,” kata si pemuda

“Masukkan garam ke dalam air di gelas itu, lalu minum, dan bagaimana rasanya?” perintah kakek.

“Iya kek…., rasanya asin sekali kek…,”ujar  si pemuda sambil meringis ke-asin-an.

“Sekarang, ambil lagi segenggam garam dan ayo kita ke danau sebelah rumah. ” perintah kakek lagi.

Semakin kebingungan, si pemuda mengikuti apa kata kakek.

Sesampainya di danau, kakek menyuruh sang pemuda untuk melarutkan segenggam garam yang dia bawa ke air di danau. “Garamnya sudah saya larutkan di air danau ini kek…,” kata si pemuda.

Bagus, sekarang coba rasakan air danau ini…,” kakek memberi perintah lagi, “Lalu apa yang kau rasakan, apakah rasanya asin seperti air di gelas tadi ?”

“Air danau rasanya tetap tawar, tidak asin kek…” jawab pemuda.

Itulah jawabanku atas keluhanmu tadi. Cucuku, segenggam garam tadi, itu ibarat segala permasalahan hidup yang kita alami. Dan danau ini, itu ibarat hati kita. Hadapi masalah ini dengan lapang dada, hati yang luas, maka masalahmu itu menjadi kecil, tak terasa. Sebagaimana garam yang engkau larutkan ke air danau ini, tidak akan berpengaruh apa2, rasa air danau tetap hambar.”

“Sebaliknya, kalau hatimu sesempit gelas tadi, maka masalah sekecil apapun akan terasa berat dan membebani seperti air di gelas yang terasa sangat asin, bahkan menjadi pahit karena terlalu asinnya…”

So, berlapang dada-lah dalam menghadapi pernak-pernik kehidupan. Bersyukur ketika dapat nikmat dan bersabar ketika dapat ujian. Itulah sebenarnya hati yang lapang…….

(unknown author)