Authorship, Kolaborasi dan Angka Kredit

Creativity-and-Collaboration2

Dari akhir abad 17 sampai sekitar tahun 1920an, paper ilmiah biasa ditulis oleh satu penulis. Namun, mulai tahun 1950an, “aturan 1 paper-1 penulis” mulai ditinggalkan. Rata-rata jumlah penulis per paper pada jurnal ilmiah terus meningkat dari 1,5 penulis/paper pada tahun 1960, naik jadi 2 di tahun 1980, jadi 3,18 di tahun 1990, dan terus meningkat jadi 4,83 penulis/paper pada tahun 2010. Sebaliknya, proporsi paper dengan satu penulis semakin menurun dari 35 persen tahun 1980 menjadi sekitar 11 persen di tahun 2012.

Tren peningkatan jumlah penulis/paper tersebut dipicu dari dari meningkatnya kolaborasi riset antar peneliti dan intitusi. Kesadaran akan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan Iptek berimplikasi pada naiknya jumlah paper yang multi-author.

Kesadaran akan pentingnya kolaborasi juga didukung oleh kebijakan dari institusi riset dan funding agencies. Mereka menuntut riset yang berkualitas tinggi dengan pendekatan kolaboratif serta inter-disclipinary. Selain itu, funding agencies bahkan mulai memperhatikan authorship dalam CV peneliti ketika mereka mengirimkan aplikasi sponsorship. Prof. Carlos Duarte menyebutkan bahwa peneliti yang punya banyak single-author paper dalam CV-nya, akan mendapat kesan bahwa dia tidak bisa berkolaborasi dan bekerja sama dengan pihak lain atau bisa jadi dia “di-jauhi” di komunitasnya. Semakin banyak jumlah single-author paper, semakin kuat kesan bahwa peneliti tersebut tidak memiliki kemauan untuk bekerjasama denga pihak lain. Sebaliknya, multi-author paper akan mendapatkan “nilai” lebih karena potensi kolaboratifnya.

Nah, apa hubungan antara tren kolaborasi dengan penilaian angka kredit peneliti di Indonesia? Kebijakan penilaian angka kredit justru terlihat seperti melawan arus tren yang ada. Bukannya mendorong kolaborasi, peneliti justru mendapat angka kredit lebih besar kalau menulis sendirian, Single author mendapat nilai full, sedangkan multi author harus berbagi nilai. Peneliti mendapat “hadiah” lebih tinggi kalau menulis sendirian. Disini, nampaknya perlu memikirkan ulang tentang kebijakan angka kredit peneliti berkaitan dengan dorongan untuk kolaborasi. Atau mungkin, LIPI sudah ada kebijakan praktis tersendiri untuk merangsang penelitian kolaboratif, cuma saya saja yang tidak tahu. Bahwa kolaborasi itu penting, saya kira itu tidak perlu dipertanyakan lagi (Udhi-terinspirasi dari lecture Prof. Carlos Duarte).

*Siapa Prof. Carlos Duarte? Beliau adalah Member dari Scientific Council of the European Research Council (ERC). Silahkan dicari di google untuk lebih detail.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s