Oh my God…

Dua bulan terakhir ini, sebagian besar kolegaku adalah orang-orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Beberapa kali dalam obrolan ringan di sela-sela break, mereka dengan pe-de mengungkapkan keyakinannya itu. Berbagai logika mereka kemuka-kan. Tapi, kami tidak berniat mendiskusikan itu secara lebih jauh. Pengamatan sampel di laboratorium lebih menyita waktu dan perhatian kami.

Namun ada satu hal yang sering mereka lakukan dan juga kontradiktif dengan keyakinan mereka. Pada momen-momen tertentu, mereka secara spontan dan reflek, mengucapkan “oh, my god…”. Di satu sisi, mereka bilang tidak percaya adanya Tuhan, tapi di sisi lain, misalnya saat terkagum-kagum pada sesuatu, saat terkejut, atau bahkan saat marah karena cuaca, ekspresi yang justru spontan dan pertama muncul adalah ucapan “oh, my god..”.

Apa yang mereka lakukan itu membuatku sampai pada kesimpulan bahwa manusia itu secara naluri dan fitrah tidak bisa menolak adanya eksistensi Tuhan. Meskipun akal logika mereka mati-matian mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun fitrah mereka menunjukkan hal sebaliknya. Tanpa mereka sadari, alam bawah sadar mereka mengakui adanya eksistensi Tuhan, yang nampak pada ekspresi “oh, my god..”.

(Texel, January 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s