Rain

As usual, it’s rainy all day long in Groningen. No sun, gloomy. Even worse, strong wind brings chilly temperature.

In this situation, I can see two types of people’s attitudes. The first is the ones who are complaining. When they got to do something outside, and suddenly rain comes, then things don’t go well. Complaining is the first thing spontaneously coming up.

The second is the ones who are, instead of whining, being grateful. In contrast with the first type, they can enjoy the situation. Naturally, they don’t like the situation as well, however they cannot change it. So, what they do is simply changing their attitude, replacing complaining with gratitude.

Complaining or gratitude is just ways of seeing the world. It’s like a rhetoric question, “Is the glass half empty or half full?”  And the answers depend on what you intend to do. You can either answer “half empty” or “half full”. Both can either mean optimistic or pessimistic.

After all, it’s better to be grateful and optimistic, isn’t it?

(Sambil nunggu hujan reda, Januari 2012)

The Road Not Taken

(by Robert Frost, from Mountain Interval, 1916)

———————————————–

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less travelled by,
And that has made all the difference.

————————————————

This poem is by Robert Frost, published in 1916 in the collection of Mountain Interval. It consits of four stanzas of five lines and the rhyme is ABAAB. 

It is very narrative. The story starts when a traveler stood at a fork of the road in the wood. The road split into two ways (one goes one way, the other goes a different way). It took a long time for him to decide which road he should take. He looked at the the first road, yet he could not see the end of the road as it bent curvy into the horizon.  

Then, he decided to take the second one as it looked more deserving for him to walk by. Although, both roads were equally worn down by people walking down them and equally overlaid by un-trodden leaves. However, he walked by on the second road anyway, telling himself  that someday in the future he will go for walking down on the first road. Yet he knew, that it will be impossible for him to have the opportunity to do so.  In the future, he will reminisce the decision he made by saying, he took the less-traveled road and that made a big change in his life (?). 

I like this poem. Perhaps, it is because the meaning that can express our feeling. Though, we may have different opinion on the poem’s meaning. Speaking for myself, it tells us that at some  point we would face the same situation. We often face dilemma in which a difficult choice has to be made between two or more alternatives. Making it complicated is that the alternatives are sometimes equally desirable, or even equally undesirable. Even worse, we do not know how it is going to be before we make the actual decision. Still, we have to decide anyway, and we are free to choose.

One important thing we should know is that there is no “Wrong Path” or “Right Path”. Both have their own consequences, this is the nature of decision. Perhaps, both decisions would make big differences in our life but in a a different way. Once a decision has been made, whatever it is, never go back. 

(Menunggu hasil sequencing di MarBee Lab, 20 January 2012)

Oh my God…

Dua bulan terakhir ini, sebagian besar kolegaku adalah orang-orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Beberapa kali dalam obrolan ringan di sela-sela break, mereka dengan pe-de mengungkapkan keyakinannya itu. Berbagai logika mereka kemuka-kan. Tapi, kami tidak berniat mendiskusikan itu secara lebih jauh. Pengamatan sampel di laboratorium lebih menyita waktu dan perhatian kami.

Namun ada satu hal yang sering mereka lakukan dan juga kontradiktif dengan keyakinan mereka. Pada momen-momen tertentu, mereka secara spontan dan reflek, mengucapkan “oh, my god…”. Di satu sisi, mereka bilang tidak percaya adanya Tuhan, tapi di sisi lain, misalnya saat terkagum-kagum pada sesuatu, saat terkejut, atau bahkan saat marah karena cuaca, ekspresi yang justru spontan dan pertama muncul adalah ucapan “oh, my god..”.

Apa yang mereka lakukan itu membuatku sampai pada kesimpulan bahwa manusia itu secara naluri dan fitrah tidak bisa menolak adanya eksistensi Tuhan. Meskipun akal logika mereka mati-matian mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun fitrah mereka menunjukkan hal sebaliknya. Tanpa mereka sadari, alam bawah sadar mereka mengakui adanya eksistensi Tuhan, yang nampak pada ekspresi “oh, my god..”.

(Texel, January 2011)

Teladan Kepemimpinan dari Perang Badar

Menyikapi Masalah

Pada detik-detik menjelang perang Badar, tiba-tiba saja kondisi berubah total. Kini kaum Muslimin bukan lagi berhadapan dengan Abu Sufyan dan kafilahnya beserta tigapuluh-an orang rombongannya saja, melainkan Mekah dengan seluruh isinya sekarang keluar dipimpin oleh pemuka-pemuka mereka.

Masalah besar tengah dihadapi kaum Muslimin. Andaikata pihak Muslimin dapat mengejar kafilah Abu Sufyan, kemudian mengambil tawanan dan menguasai unta beserta muatannya, pihak Quraisy tentu akan segera pula dapat menyusul mereka. Abu Sufyan merasa sudah didukung oleh sejumlah orang dan perlengkapan yang cukup besar. Mereka bertekad akan bertempur dan mengambil kembali harta mereka, atau bersedia mati untuk itu.

Namun sebaliknya, apabila rombongan Rasulullah SAW kembali pulang, pihak Quraisy dan Yahudi Medinah tentu merasa mendapat angin. Kaum Muslimin terpaksa akan memikul segala tekanan dan gangguan Yahudi Medinah, seperti gangguan yang pernah mereka alami dari pihak Quraisy di Mekah sebelumnya. Ya, apabila menyerah kepada situasi semacam itu, mustahil sekali kebenaran akan dapat ditegakkan dan Tuhan akan memberikan pertolongan dalam menegakkan agama itu.

Dengan berkekuatan 1000 pasukan, kaum kafir Quraisy telah berada di medan perang Badar. Tak ada kemungkinan untuk menghindar dari perang bagi kaum Muslimin. Suka atau tidak suka, Rasulullah SAW dengan 300-an pasukannya harus maju menghadapi pasukan yang jumlahnya tiga kali lipat.

Rasulullah SAW memahami situasi genting ini. Beliau memutuskan untuk bemusyawarah dengan dengan sahabat-sahabatnya. Diberitahukannya kepada mereka tentang keadaan Quraisy menurut berita yang sudah diterimanya. Abu Bakr dan Umar juga lalu memberikan pendapat, kemudian di-ikuti Miqdad bin ‘Amr. Mereka menyatakan siap maju perang. Saad bin Muadz, pemimpin kaum Anshar, segera menanggapi dan menyatakan kesiapannya mengikuti perintah perang Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW dan pasukannya berangkat menuju Badar melalui bukit Ash’shafir, kemudian melewati daerah yang bernama ad-Diyah, kemudian berhenti tidak jauh dari Badar. Di tempat itulah, pasukan Muslimin menyusun strategi perang. Dengan strategi yang jitu, mereka berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy, meski jumlah lawan jauh lebih banyak.

Sobat, pelajaran tentang kepemimpinan yang sangat berharga dapat kita simak dari kisah perang Badar diatas. Rasullullah SAW dan para sahabatnya telah menunjukkan kepada kita tentang bagaimana seorang pemimpin harus menyikapi permasalahan yang tengah dihadapi, seperti halnya masalah besar pasukan Muslimin menjelang perang Badar. Bagaimana seorang pemimpin memaknai sebuah masalah?

Masalah adalah kesempatan
Bagi seorang pemimpin, masalah adalah kesempatan untuk banyak hal. Kesempatan untuk meningkatkan kemampuan diri. Kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Kesempatan untuk membentuk integritas diri. Kesempatan untuk menuju kesuksesan yang lebih tinggi. Kesempatan untuk maju. Kesempatan untuk berevaluasi.

Masalah adalah kesempatan untuk apa saja. Tentunya bagi seorang pemimpin muslim sejati, maka masalah adalah kesempatan untuk beramal lebih banyak. Kesempatan untuk menambah ladang pahala. Kesempatan untuk menyiapkan bekal bagi akhirat kita.

Bagi pasukan Muslimin Badar, medan perang ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan eksistensi kaum Muslimin bagi kaum kafir. Inilah momen penting yang sangat menentukan kesuksesan masa depan dakwah Islam. Jika kesempatan ini terlewatkan, maka boleh jadi dakwah Islam akan berhenti saat itu juga.

Selain itu, inilah kesempatan bagi para sahabat untuk membuktikan keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya. Maka meski mereka menghadapi masalah jumlah pasukan yang lebih banyak, tapi tidak mengendurkan semangat perang mereka. Nah, karena masalah adalah kesempatan, maka pada saat datang, kita akan menganggapnya sebagai hadiah yang kita terima dengan sukacita. Bahkan kita akan menunggunya dengan harap, seandainya masalah tidak datang.

Masalah adalah tantangan
Janganlah menganggap masalah sebagai suatu beban yang harus dipikul di pundak. Ketika kita memaknai masalah sebagai beban, maka kita akan cenderung menghindarinya. Sikap ini akan memunculkan pesimisme dalam diri sobat. Dan sobat tahu, bahwa orang-orang yang gagal adalah yang suka menghindari masalah. Ubahlah paradigma berpikir seperti itu. Anggaplah masalah adalah tantangan.

Ketika kita memaknainya sebagai tantangan, maka kita akan cenderung berusaha menghadapinya. Pada saat itu, optimisme akan muncul dengan sendirinya. Dan sobat juga tahu, bahwa optimisme adalah modal utama untuk mencapai kesuksesan. Sikap optimis akan melahirkan semangat dalam berusaha mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Sikap seorang pemimpin yang optimis dan bersemangat juga mampu mempengaruhi suasana hati para pengikutnya menjadi bersemangat pula. Anda dapat dengan mudah mempengaruhi bawahan Anda, ketika Anda tampil optimis dan bersemangat dalam menghadapi masalah.

Jika masalah adalah tantangan, maka untuk menyelesaikannya pun membutuhkan kekuatan. Kekuatan hati, pikiran, tenaga, waktu, dan sebagainya. Karena itu, seringkali kita berubah menjadi jauh lebih kuat, setelah berhasil menyelesaikan masalah sebelumnya. Bukanlah menjadi lemah, justru kekuatan akan menjadi milik Anda, ketika Anda menghadapi dan menyelesaikan masalah. Bukankah kaum Muslimin menjadi semakin kuat pasca kemenangan di medan Badar?

Sama halnya dengan anak-anak elang. Hadiah terbesar bagi anak elang, yang dapat diberikan induk elang, bukanlah potongan daging makanan, bukan pula eraman hangat di malam yang dingin. Namun, ketika sang induk melemparkan mereka dari sarang yang tinggi di pohon. Detik pertama, anak elang akan menjerit ketakutan, mengira induknya sungguh keterlaluan, membiarkan anaknya jatuh ke tanah, menghadapi kematian.

Sesaat kemudian, bukanlah kematian yang mereka dapatkan, justru kekuatan yang menjadi modal utama sepanjang hidupnya. Mereka mendapatkan kesejatian sebagai seekor elang, yaitu kemampuan terbang. Anak-anak elang itu telah mampu menghadapi masalah dan mengubahnya menadji kekuatan. Kekuatan terbang.

Nah, kadang kita juga sering dibayangi, seolah-olah masalah yang kita hadapi besar dan sangat sulit dipecahkan. Padahal ketika kita mau mecoba mengatasinya, ternyata mudah dan ringan diselesaikan. Maka, hadapi dan lakukan sesuatu sekarang untuk mengatasi Anda. Jangan tunda lagi. Belum tentu masalahnya sebesar dan sesulit yang kita takutkan.

Sosok Pemimpin Berpengaruh

Adalah Rasulullah Muhammad SAW, sosok yang buta huruf namun mampu mengubah wajah peradaban dunia melalui risalah Islam yang diajarkannya. Beliau dikenal sebagai seorang pemimpin agama, panglima perang, diplomat ulung, sekaligus negarawan yang handal.

Dalam sejarah, dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW, situasi sosial dan politik wilayah Arab yang dipenuhi dengan persaingan antarsuku dan tata kehidupan yang keras khas padang pasir berubah menjadi sebuah komunitas yang bersatu dengan peradaban yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Beliau adalah sosok pemimpin yang sukses.

Salah satu kunci instrumen penting dalam kepemimpinan Rasulullah yang patut kita tiru adalah kemampuan beliau dalam mempengaruhi orang lain. Stephanie Barrat-Godefroy (penulis buku tentang manajemen SDM), menguraikan bahwa salah satu persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin sejati adalah harus mampu mempengaruhi orang lain. Kemampuan mempengaruhi orang lain lain menjadi modal dasar seorang pemimpin, bagi komunitas apapun, dari lembaga bisnis, pemerintahan, agama, dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah apa yang bisa membuat seorang pemimpin memiliki pengaruh yang kuat terhadap para pengikutnya? Ada beberapa hal, yaitu

Ketinggian ilmu
Kepandaian seseorang dapat menyebabkan seseorang itu berpengaruh terhadap orang lain. Bahkan seorang khalifah sekalipun bisa tunduk kepada seorang yang memiliki ketinggian ilmu. Suatu ketika, khalifah Harun ar-Rasyid mendengar ketinggian ilmu Imam Malik, peletak dasar Mazhab Maliki.

Sang khalifah tertarik supaya anak-anaknya belajar pada sang ulama. Ia meminta sang ulama untuk datang ke istana khalifah. ”Saya ingin anak-anakku mendengarkan kajian kitab al-Muwaththa’ di istana,” ujar Harun ar-Rasyid.
Namun, betapa terkejutnya sang khalifah, Imam Malik tidak mau datang ke istananya. Dengan tegas Imam Malik menjawab, ”al-Ilmu yu’ta alaihi wa la ya’ti” (Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi). Harun ar-Rasyid tidak bisa apa-apa. Ia lantas menyuruh putra-putranya datang ke masjid tempat Imam Maliki memberikan kajian untuk mengaji bersama rakyatnya.

Kita bisa lihat bahwa pengaruh seseorang bisa timbul karena ketinggian ilmunya. Namun perlu diperhatikan, bahwa jangan dikira dengan sebatas menguasai ilmu saja, kita bisa menjadi orang yang berpengaruh. Menuntut ilmu harus disertai dengan mengamalkannya secara ikhlas. Pengamalan dengan ikhlas atas ilmu akan menumbuhkan rendah hati yang memancarkan kewibawaan. Itulah kunci kenapa Imam Malik menjadi begitu berpengaruh.

Kemampuan lisan
Tidak semua pengaruh muncul dari ketinggian ilmu. Pengaruh bisa tumbuh karena kecerdasan lisan seseorang. Kemampuan berbicara, orasi, atau berdiplomasi yang baik dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain. Bung Karno, presiden pertama RI, adalah contoh pemimpin berpengaruh sekaligus orator yang ulung.

Mari kita simak siroh tentang sahabat Mush’ab bin Umair! Beliau adalah duta dakwah pertama yang diutus Rasulullah membuka dakwah di Madinah. Pada suatu hari, Mush’ab bin Umair menyampaikan dakwah di hadapan kabilah Abdul Asyhal di Madinah, tiba-tiba beliau dihadang Usaid bin Hudlair, sang kepala kabilah.

”Apa maksud kedatanganmu ke sini? Apakah hendak membodohi kaumku? Tinggalkan segera tempat ini! Atau nyawamu akan melayang!” bentak Usaid sambil menodongkan tombak ke dada ibnu Umair.

Dengan tenang dan halus, Mush’ab bin Umair menjawab, ”Bagaimana jika Anda duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya Anda menyukai nanti, Anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, saya akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai!”

Mendengar permintaan halus tersebut, seketika Usaid menjatuhkan tombaknya dan meminta ibnu Umair untuk menyampaikan dakwahnya. Segera Mush’ab bin Umair membacakan ayat-ayat Al-Quran dan menguraikan dakwah yang dibawakan Muhammad SAW. Hasilnya, hati dan pikiran Usaid mulai terbuka dengan hidayah Allah yang bercahaya, Usaid bersyahadat. Tidak lama kemudian, keislaman Usaid bin Hudlair diikuti Sa’ad bin Mu’adz, kemudian Sa’ad bin Ubadah. Pasca masuk Islamnya tiga tokoh tersebut, masyarakat Madinah berbondong-bondong masuk Islam.

Sosok sahabat Mush’ab bin Umair menjadi teladan kita tentang bagaimana kemampuan diplomasi lisan dapat mempengaruhi pikiran orang. Dengan pertolongan Allah SWT melalui kemampuan lisannya, Mush’ab bin Usaid mampu mempengaruhi masyarakat Madinah dan kemudian mempersiapkan Madinah untuk kedatangan rombongan hijrah kaum Muslimin dari Mekah.

Kekuatan kepribadian
Dialah Abdurrahman ibnul Jauzi. Beliau memang hanya seorang ulama, tapi kekuasaan dan pengaruhnya mampu melebihi kekuasaan seorang raja. Dengan kekuatan kepribadiannya, kharismanya, beliau mampu mengusai jalan pikiran setiap orang yang mendengarkan petuahnya.

Untaian kalimat nasihat yang keluar lisannya, mampu melembutkan hati sekeras batu sekalipun. Sinar matanya yang penuh wibawa dan kharisma mampu menjinakkan keliaran mata. Setiap kali ia berkhotbah, ribuan atau bahkan ratusan ribu orang menemui kesadaran kembali. Bahkan penguasa digdaya yang tidak pernah menangis seumur hidupnya akan menangisi dirinya di hadapannya.

Apa yang menyebabkan pengaruh yang beliau miliki begitu luar biasa di hadapan orang lain? Jawabannya tidak lain karena kekuatan kepribadian beliau. Kepribadian yang terbentuk dari kharisma dan pesona diri. Ya, kepribadian beliau menjadi berpengaruh karena kharismanya. Kharisma tumbuh dari gabungan wibawa dan pesona, ilmu dan akhlak, pikiran dan tekda, keluasan wawasan dan kelapangan dada. Beliau menebarkan ilmu dan cinta di setiap penjuru pikiran manusia.

Itulah kekuasaan spiritual, kata Anis Matta. Kekuasaan yang mampu menimbulkan ketaatan atas dasar pengakuan tulus, bukan ketakutan atas ancaman. Kekuasaan yang mampu menimbulkan ketundukan atas dasar hormat dan cinta.

Jadi, pesan utama tulisan adalah pada tiga hal yang mampu mengubah diri Anda menjadi begitu berpengaruh kepada orang laing, yaitu ilmu, lisan, dan integritas pribadi.

SMART Vision

Suatu ketika, Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Umair, Urwah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan duduk bersama dalam satu majelis. Salah seorang dari mereka melontarkan pertanyaan, ”Mari kita ber-angan karena Allah, apa yang kalian inginkan?”
”Aku ingin memiliki wilayah Hijaz dan menjadi khalifah di atasnya,” kata Abdullah bin Zubair.
”Aku ingin menguasai wilayah Iraqain (Kufah dan Basrah),” kata Mush’ab bin Umair.
”Aku ingin memiliki seluruh bumi, dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah,” kata Abdul Malik bin Marwan.
”Aku ingin menjadi seorang yang alim, banyak beramal, menjadi rujukan manusia. Lalu aku unggul di akhirat dengan ridha Allah dan surga-Nya,” kata Urwah bin Zubair.

Pada akhirnya, Allah mewujudkan cita-cita keempat tokoh tersebut. Abdullah berhasil menguasai Hijaz dan diangkat menjadi khalifah. Mush’ab mampu menguasai Iraqain. Abdul Malik juga menjadi khalifah setelah Mu’awiyah dan Urwah menjadi ulama yang terkenal sebagai rujukan kaum Muslimin dalam mempelajari Al-Quran dan sunnah Rasul.

Begitulah orang-orang besar hidup. Kesuksesannya berawal dari membangun mimpi. Cita-cita. Visi. Itulah yang mesti kita miliki untuk menjadi sukses. Mereka dari awal sudah memetakan dengan tepat visi hidup mereka. Ada sebuah kalimat bijak, ”mimpi hari ini adalah kenyataan di hari esok”. Ya, kesuksesan pada masa depan dimulai dari membangun mimpi yang tepat pada saat ini.

Sama halnya ketika kita menjadi memimpin sebuah organisasi. Kesuksesan kita sebagai pemimpin dimulai dari membangun visi yang tepat. Seperti apa? Ada lima syarat, yang terkenal dengan singkatan SMART. Artinya Spesific, Measurable, Achievable, Reasonable, dan Time-framed.

1. Spesific

Spesific artinya tertentu atau khusus. Jelas. Gamblang. Tidak kabur. Coba kita lihat bagaimana ke-empat tokoh di atas, Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Umair, Urwah bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan, masing-masing memiliki cita-cita yang jelas. Mereka dengan gamblang menceritakan visi yang ingin dicapai dalam hidup mereka. Gambaran yang jelas mengenai visi menjadi salah satu faktor kunci yang akan menentukan konsistensi sobat ketika menghadapi masalah. Masing-masing juga menentukan visi hidup yang berbeda satu sama lain. Itulah makna dari ”khusus” di atas. Setiap kita biasanya memiliki ke-khas-an tersendiri dalam menentukan cita-cita.

2. Measurable

Yang kedua adalah measurable, artinya terukur. Maksudnya, kita memiliki parameter-parameter yang jelas untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dalam mencapai visi . Kita bisa melihat sukses atau tidak dari parameter tersebut. Apa yang bisa kita dapatkan dari pencapaian visi yang telah direncanakan. Itu intinya.

Coba sobat perhatikan pernyataan Abdullah bin Zubair! Dia ingin memiliki wilayah Hijaz dan menjadi khalifah di atasnya. Parameter apa yang bisa dilihat? Ya, beliau baru akan merasa sukses jika tidak hanya memiliki Hijaz saja, tapi juga dengan menjadi khalifah di wilayah tersebut. “…………menjadi khalifah di atasnya”. Itulah kalimat yang nenunjukkan bahwa visi Abdullah bin Zubair adalah visi yang measurable.

3. Achievable

Achievable atau dapat dicapai. Tentukan pencapaiannya. Target yang ingin kita capai itu apa. Nah, target itu haruslah yang rasional. Yang seperti apa? Yang kita dapat mencapainya. Bukan yang muluk-muluk. Hanya sekedar mimpi belaka tanpa pernah bisa terealisasi.
Kembali kita memperhatikan pernyataan Urwah bin Zubair di atas. Pada kalimat terakhir, beliau ingin menjadi manusia yang unggul di hadapan Allah SWT. Nah, bagaimana beliau bisa mencapainya? Jawabnya adalah dengan menjadi seorang yang alim, banyak beramal dan menjadi rujukan manusia dalam ilmu agama.

Sebagaimana Urwah bin Zubair, kita harus bisa merinci, atau setidaknya memiliki gambaran, kira-kira untuk bisa mencapai visi tersebut apa yang mesti dilakukan. Cara apa yang mesti kita tempuh. Jalan mana yang mesti kita lalui sehingga visi tercapai. Visi bisa dikatakan achievable adalah ketika visi itu memiliki skenario atau rencana bagaimana pencapaiannya.
Kalau kita ternyata tidak tahu harus bagaimana? Berpikir yang keras untuk mencari jalan. Kalau masih belum ketemu, masih bingung? Boleh jadi, visi kita memang tidak memenuhi syarat achivable.

4. Reasonable

Reasonable itu bisa diartikan layak, pantas, dan masuk akal. Realistis. Kita mesti menentukan visi yang layak, pantas dan masuk akal bagi kita untuk mencapainya. Untuk itu mesti ada alasan yang menjadikan visi kita realistis. Lagi-lagi, tidak muluk-muluk sehingga bisa tercapai. Kata seorang teman, tahu diri sedikitlah…

Tapi itu bukan berarti kemudian kita terus pasang target rendah. Bukan begitu. Kita tetap menentukan cita-cita yang setinggi-tingginya, hanya catatannya mesti yang realistis. Istilah kerennya, kita tidak over-estimate tapi juga tidak under-estimate.  Jadi, visi yang reasonable adalah yang realistis. Yang sesuai dengan situasi dan kondisi kita. Kapasitas kita sangat menentukan realistis tidaknya visi yang kita buat. Tentang visi ke-empat tokoh di atas, adalah realiastis karena memang kapasitas mereka layak untuk memiliki obsesi setinggi itu.

5. Time-framed

Time-framed, ini artinya visi kita mesti memiliki frame waktu yang jelas. Memiliki tahapan-tahapan waktu dalam pencapaiannya. Maksudnya, ada kejelasan waktu kapan kita akan memulai, sampai target kapan visi tersebut harus tercapai. Semua kerja tersusun dalam urutan waktu pelaksanaan yang tertata. Ini akan membantu kita dalam mengukur sukses atau gagalnya pencapaian visi kita. Selain itu, terlambat tidaknya visi tercapai juga dapat dilihat.
Abdul Malik bin Marwan memiliki visi dengan time-frame yang jelas. Beliau ingin menjadi khalifah setelah Mu’awiyah. Di sini terlihat bahwa, time-framed tidak hanya melulu terpaku pada satuan waktu yang biasa kita kenal, misal tahun, bulan, umur, dsb. Tetapi yang ditekankan adalah pada urutan atau tahapan kerja dengan alokasi waktu masing-masing. Gitu…….

Kuliah Evolusi-Atheisme Richard Dawkins

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengikuti kuliah umum Prof. Richard Dawkins secara langsung di Nieuwkerk, Groningen. Buat yang belum tahu siapa Richard Dawkins, dia adalah salah seorang profesor biologi (bidang kepakarang evolusi) di University of Oxford, UK. Ilmuwan ini menjadi terkenal di dunia melalui pemikirannya tentang teori evolusi, genetika dan asal-usul kehidupan dalam beberapa buku karangannya, misalnya The Selfish Gene dan The Extended Phenotype. Dia menjadi semakin terkemuka setelah membuat kontroversi melalui bukunya The God Delusion yang mengkritik habis-habisan kepercayaan adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta. Dia adalah seorang atheis yang meyakini bahwa kehidupan sepenuhnya berjalan dalam prinsip-prinsip evolusi. Kalau pengen tahu lebih detail, silahkan di-google sendiri ya..

Saya termasuk beruntung bisa mengikuti kuliahnya secara langsung. Banyak teman-teman yang juga sangat ingin mengikuti tapi tidak bisa karena tidak mendapatkan tiketnya. Perlu diketahui, tiket kuliah ini terjual habis sekitar setengah jam setelah loket dibuka. Padahal, saat itu masih dua minggu sebelum acara. Saya sendiri bisa ikut karena profesor pembimbing mengajak saya. Kebetulan, pembimbing termasuk salah satu anggota event organizer-nya.

Selama sekitar satu jam, dalam kuliahnya Dawkins menjelaskan pemikirannya mengenai prinsip-prinsip dasar teori evolusi dan perkembangannya. Tidak ada yang baru dalam kuliahnya, sama seperti uraian dalam beberapa buku/tulisannya yang telah saya baca sebelumnya.

Lepas dari masalah keyakinan saya (Islam) yang tentunya bertentangan dengan pemikiran Dawkins, ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya. Menurut Dawkins, kehidupan di bumi ini berjalan dalam kerangka proses evolusi. Sementara, proses evolusi menuntut adanya seleksi alam dan variasi individu. Seleksi alam terjadi melalui beberapa faktor pemicu, misalnya terbatasnya akses sumber daya dan adanya gangguan (pemangsa, bencana, dsb). Karena akses terhadap sumber daya (misalnya makanan, habitat, reproduksi, dsb) sifatnya terbatas, maka terjadinya kompetisi antar individu tidak dapat di-elakkan. Siapa yang mampu mempertahankan akses-nya terhadap sumber daya (misalnya sumber makanan), maka dia-lah yang bertahan. Kompetisi antar individu menjadi semakin parah karena pada saat yang sama setiap individu juga menghadapi gangguan (misalnya pemangsa). Pada akhirnya, siapa yang mampu bertahan adalah yang memiliki akses terhadap sumber daya sekaligus bertahan dari gangguan. Prinsip yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah, menjadi berlaku disini.

Masalahnya adalah Dawkins membawa prinsip dasar evolusi ini ke konteks yang lebih luas, masuk ke aspek kehidupan manusia. Salah satu penopang dasar dari keyakinan atheisme yang dia pegang adalah teori evolusi (yang prinsip dasarnya tersebut di atas). Jika dikembangkan lebih jauh, pemikiran ini bisa meng-inspirasi tumbuhnya golongan radikal atheis baru, yang berprinsip yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah.

Hal ini-lah yang mengganggu saya. Golongan ini bisa saja memerangi atau bahkan membunuh individu/kelompok/atau bangsa lain yang lemah dengan alasan, “begitulah hukum alam, yang kuat, yang menang dan yang lemah, yang punah”. Hidup adalah persaingan untuk mendapatkan sumber daya dan berlindung dari gangguan (dalam bentuk apa saja). Ini bisa menjadi malapetaka bagi seseorang yang terlahir dengan cacat bawaan misalnya, karena keterbatasan fisiknya membuat dia tidak mampu meng-akses sumber daya atau berlindung dari gangguan.

Parahnya adalah, Dawkins sangat getol mengampanyekan pemikiran atheisme-nya sekaligus mempopulerkan teori evolusi ke khalayak luas. Silahkan di-google aja. Ketik nama Richard Dawkins, dan lihat hasilnya, Anda akan melihat betapa Dawkins merupakan figur pemimpin baru dalam atheisme. Saya sangat khawatir, dalam perkembangannya ke depan, akan muncul orang-orang yang sangat terpengaruh oleh pemikiran Dawkins dengan sudut pandang yang radikal. Dan ini bisa merusak tatanan peradaban manusia.

Anyway, memang akan selalu ada orang-orang seperti Dawkins ini, dan ini merupakan salah satu bentuk ujian keimanan bagi seorang mukmin (Al-Ankabut: 2-3). Semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam istiqomah.

(Pojok Jupiterstraat, 13 Januari 2012).